Langsung ke konten utama

Postingan

Breaking Someone's Heart

Hurting someone’s feelings, breaking their heart, is a huge sin in Islam. Words cause more pain & remain longer than anything physical. Allah hates when people go around playing with people’s emotions. If you are somebody who has been broken by a person, forgive them. Not because they deserve it, but out of our love for Allah..thanking him for making us amongst the people who have never thought about intentionally hurting someone else. Forgive as a symbol of our thanking towards Him, for making us amongst the oppressed and not the oppressors. There is no sin in being the oppressed; rather Allah tells us that he is with the one who has been wronged & is constantly answering their dua’s. Avoid breaking one’s heart under any circumstances, unless he/she is asking you to do something against Shariat. Other than that, it is strictly prohibited in our religion.

Dear Name 2

Zaman saya kuliah, saya banyak mengeluhkan kalau Indonesia sudah kehilangan tokoh. Contoh tentang tokoh pendidikan, yang kita ingat otomatis Ki Hajar Dewantara yang masa hidupnya 1889-1959. Tidak salah, hanya saja dari sini muncul pertanyaan tentang kemana tokoh mudanya? Waktu saya tulis ini, jujur saya masih pikir ini lucu. Waktu zaman kuliah juga, saya, mahasiswa dengan keidealismeannya, melihat bahwa ini sudah tahun ke sekian tapi berita soal pendidikan masih seputar itu-itu saja, semacam bangunan yang tidak layak, akses ke sekolah yang sulit, pungutan liar, biaya mahal, kualitas guru, UN, dll. Silakan dicek, berita seperti itu ada saja tiap tahunnya. Akhirnya kami simpulkan bahwa “kalau pemerintah tidak tangani, biar kita di bawah yang gerak sendiri-sendiri”. Bayangkan semua orang gotong royong memajukan negara tercinta ini, mungkin kita tidak butuh pemerintah lagi. Well, saya pernah seoptimis itu dan ada sekian orang lainnya yang memiliki pemikiran yang sama. Semoga mereka m...

The Grand Old Man

Tiga jam menuju hari Senin. Selamat :D (Kalau ternyata saya post di hari Selasa atau hari lainnya, mungkin malam Senin saya ketiduran hehe.) Saya sempatkan untuk nulis sedikit. Awalnya mau nulis tentang depresi dan mental health . Ternyata saya butuh lebih banyak waktu karena kekurangan sumber. Jadi saya putuskan untuk tunda dulu dan ganti dengan ini.  Ini urutannya agak acak-acakan. Mungkin nanti saya rapikan dan tambahkan bila perlu. Enjoy :)  *** Tulisan kali ini tentang seorang diplomat yang cerdik, pendebat ulung, santri yang kritis dan ulama yang moderat. Panggilan untuk beliau adalah “The Grand Old Man”, barangkali paling dikenal karena kejeniusannya menguasai banyak bahasa yaitu Melayu, Bahasa Minang (bahasa ibunya), Belanda, Arab, Inggris, Jepang, Prancis, Jerman, Mandarin, Latin, Jepang dan Turki. Ia juga menguasai beberapa bahasa daerah, seperti Bahasa Jawa dan Sunda. Yep, ini tentang Haji Agus Salim. Yang saya tulis di sini sebagian...

BELAJAR DARI KISAH NABI ZAKARIA AS

Malam kemarin saya ngobrol ngalor ngidul dengan teman tentang doa. Kami masing-masing menyadari beberapa hal, mungkin juga terjadi pada siapa saja, ternyata apa yang kita dapatkan saat ini adalah apa yang pernah kita minta dalam doa beberapa bulan atau bahkan tahun sebelumnya. Interesting , padahal kadang kita sendiri lupa dulu pernah minta apa. Ngomong-ngomong soal doa dan kesabaran, saya selalu ingat kisah Nabi Zakaria. Sebagai orang yang cukup emo :D saya sering sedih baca kisahnya. Kalau ada yang keliru dari tulisan saya, tolong kasih tahu & betulkan. Nabi Zakaria a.s merupakan ulama besar di kalangan Bani Israil   dan masih keturunan Nabi Sulaiman a.s. Istrinya adalah saudara perempuan Hannah, sedangkan Hannah ialah istri Imran seorang pembesar di kalangan Bani Israil. Hannah dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Maryam. Jadi Nabi Zakaria a.s adalah paman dari Siti Maryam, ibu Nabi Isa. Nabi Zakaria juga mengasuh Maryam setelah Imran wafat. Dalam ber...

Assalammualaikum Sahabat

Sabtu adalah setenang-tenangnya malam, seperti sekarang. Kosan saya letaknya tepat menghadap mesjid, hanya terhalang lapang voli yang ada ring basketnya. Di lapang voli ini rutin tiap minggu sekali ada ibu-ibu senam SKJ. Nah kalau malam-malam di mesjid juga sering ada kegiatan pengajian atau solawatan termasuk malam ini. Kamar saya di lantai atas, saya buka pintunya lebar banget. Kadang semalaman saya biarin kebuka aja. Setelah pintu kamar masih ada satu pintu lagi yang dikunci Ibu kos. Lampu kamar saya matiin biar adem. Selain saya ada 3 orang lainnya yang kos di sini juga. Baik-baik semua. Saya nggak khawatir kejadian apa-apa. Naifnya :D Tanpa niat menulis sama sekali, saya tetiba mengingat sesutu, eh bukan, seseorang yang penting. Saya mau ceritakan tentang dia di sini. *** Saya sebetulnya jarang curhat sama orang lain, karena punya sedikit trust issue. Saya nggak suka jadi bahan gosip orang lain yang awalnya saya pikir akan dijaga antara saya dan dia saja ter...

Genangan

Bagian paling pagi dari kita adalah bahwa kamu dan aku sama-sama suka menikmati hidup di ketiak senja. Di suatu hujan, kamu menjadi sedikit lebih puitis dari biasanya. "Sayang, apa kamu makan bunga?" Aku tertawa, tak kuat ingin muntah. Kami tak pernah sayang-sayangan. "Nggak?" Jawabku, masih fokus scroll Instagram. "Heran." Dia melirik hp ku, lalu mengintip mataku. "Kok kamu cantik terus." Diam-diam mengharapkan reaksiku, tak pernah kuberikan. Lalu di luar masih hujan, meninggalkan genangan. *** Kalau bukan Tuhan, aku tak tahu apa yang mempertahankan pernikahan ini. Aku tak pernah sedetik pun tidak mencintainya. Dia pun begitu, mati-matian mencintai, entah siapa, yang bukan aku. Hari pertama adalah saat paling menyakitkan. Aku mati rasa, bukan sedih, bukan bahagia. Aku menangis hingga detik ke sekian sebelum akad nikah. Lalu tangis itu berulang hingga tahun-tahun berikutnya. Aku menggangguk saat dia ingin jadikan pe...

Dear Name

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Sabtu, 12 Januari 2019, 00.27. Di luar gerimis dan masih melek. Saya punya terlalu banyak hal di kepala, jadi saya putuskan untuk menuliskan apa pun yang akan saya tuliskan di sini. Sebagai seorang muslim, saya percaya bahwa menikah itu penyempurna setengah ibadah dan sebagai manusia menikah adalah kewajiban untuk mencegah kepunahan. Walaupun dalam islam hukumnya bisa berbeda-beda tergantung situasi dan keadaan seseorang. Kalau pada usia dua puluh sekian saya belum menikah, maka itu bukan karena saya mengabaikan ini sebagai sesuatu yang tak penting-penting amat atau terlalu menikmati masa lajang. Sama sekali bukan. Pertama saya percaya bahwa untuk mendapatkan seseorang yang baik, saya harus memperbaiki diri saya sendiri dulu. Pasalnya jodoh adalah gambaran diri kita. Saya memulainya dengan menutup aurat dan membatasi pergaulan dengan lawan jenis. Saya juga memutuskan utuk berhenti pacaran setelah masuk universitas. ...